ORDO
HISTOSOLS
DOSEN : Ir.H. Joni Gunawan, M.Sc
Di susun oleh :
WAHYU TRI DODY SETIAWAN (C1051151035)
SARI WANIRA
(C1051151034)
ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK 2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami
dapat menyelesaikan tulisan ilmiah tentang ordo tanah Histosol dari taxsonomy
ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima
kasih pada Bapak Ir. H. Joni Gunawan, M.Sc selaku dosen matakulia morfologi dan
klasifikasi tanah.
Kami sangat berharap tulisan ilmiah ini
dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai
ordo tanah Histosol dari taxsonomy. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam tulisan ilmiah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan tulisan
ilmia yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga
tulisan ilmiah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun
dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Daftar isi
Kata pengantar..........................................................................................................................II
Daftar
isi.................................................................................................................................. III
BAB 1
Pendahuluan................................................................................................................ 4
Latar
belakang................................................................................................................... 4
Tujuan
penulis.................................................................................................................... 4
BAB II
Pembahasan................................................................................................................ 5
Pengertian dan definisi...................................................................................................... 5
Sifat dan ciri ordo.............................................................................................................. 6
Sub-ordo............................................................................................................................ 7
Graet-group........................................................................................................................ 8
Sub-group.......................................................................................................................... 9
BAB III Ordo histosol
diIndonesia......................................................................................... 16
Padanan nama.................................................................................................................... 16
Sebaran
geografis............................................................................................................... 17
Penggunaan tanah.............................................................................................................. 18
BAB IV
Penutup..................................................................................................................... 19
Daftar
pustaka.................................................................................................................. 19
Lampiran........................................................................................................................... 20
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
adalah bagian penting dari unsur bumi yang kita pijak setiap harinya.
Secara kasat mata, tanah berwarna coklat
dan ada pula yang kemerah-merahan. Namun, sebenarnyaklasifikasi tanahsangatlah banyak. Tanah merupakan penopang kehidupanmanusia di muka bumi. Dapat dikatakan bahwa tanah adalahjantungbumi dan kehidupan. adapun definisi tanah secara umum Menurut beberapa ahli
sebagai berikut :
1.
Ramman (Jerman, 1917). Tanah sebagai bahan batuan yang sudah
dirombak menjadi partikel-partikel kecil yang telah berubah secara kimiawi
bersama-sama dengan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang hidup di dalam dan
diatasnya.
2.
E. Saifudin Sarief
(1986). Tanah adalah benda alami yang terdapat
dipermukaan bumi yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan
batuan dan bahan organik (pelapukan sisa tumbuhan dan hewan), yang merupakan
medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat
gabungan dari faktor-faktor alami, iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk
wilayah dan lamanya waktu pembentukan.
B.
Tujuan
1.
Agar mahasiswa
megetahu tentag pengertian, definisi, sifat dan ciri-ciri dari ordo histosol
2.
Mahasiswa dapat
memahami atau megetahu tentang sub-ordo, great-group dan sub-group menurut
taxsonomy.
3.
Mahasiswa dapat
megerahui manfaat dan penyebaran dari tanah yang berordo histosol tersebut
BAB II
ORDO TANAH
HISTOSOL
A. Pengertian dan Definisi
Histosol (tanah organic) asal bahasa yunani histories artinya
jaringan. Histosol sama halnya dengan tanah sawa tanah organic dan
gambut.Histosol mempunyai kadar bahan oranic sangat tinggi sampai kedalaman 80
cm (32 inches) kebanyakan adalah gambut (peat) yang tersusun atas sisa tanaman
yang sedikit banyak terdekomposisi dan menyimapan air. Jenis tanah Histosol
merupakan tanah yang sangat kaya bahan organic keadaan dalam lebih dari 40 cm
dari permukaan tanah. Umumnya tanah ini tergenangan air dalam waktu lama
sedangkan didaerah yang ada drainase atau dikeringkan ketebalan bahan organic
akan mengalami penurunan (subsidence) Bahan organik didalam tanah dibagi 3
macam berdasarkan tingkat kematangan yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik
merupakan bahan organik yang tingkat kematangannya rendah sampai paling rendah
(mentah) dimana bahan aslinya berupa sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas.
Hemik mempunyai tingkat kematangan sedang sampai setengah matang, sedangkan
sapri tingkat kematangan lanjut. Dalam tingkat klasifikasi yang lebih rendah
(Great Group) dijumpai tanah-tanah Trophemist dan Troposaprist. Penyebaran
tanah ini berada pada daerah rawa belakangan dekat sungai, daerah yang dataran
yang telah diusahakan sebagai areal perkebunan kelapa dan dibawah vegetasi
Mangrove dan Nipah.
Secara umum definisi tanah gambut adalah:
Tanah yang jenuh air
dan tersusun dari bahan tanah organic, yaitu sisasisa tanaman dan jaringan
tanaman yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. dalam system klasifikasi baru (Taksonomi tanah), tanah gambut disebut
sebagai Histosols (histos = jaringan ).”
B.
Sifat dan
ciri ordo Histosol
Ø
Sifat
Sifat
tanah gambut berbeda dengan tanah mineral lainnya dan untuk menanam atau
membuka lahan seperti ini memerlukan tindakan pengelolaan khusus. Kandungan
bahan organic yang tinggi karena tanah berasal dari sisa tanaman mati dalam
keadaan penggenanangan permanent. Berat isi pada (bulk dencity) sangat rendah
sehingga dalam keadaan kering kosentrasinya sangat lepas kadar hara makro tidak
seimbang dengan kadar hara mikro yang sangat rendah.
Daya menahan air
sangat besar dan jika mengalami kekeringan, tanah mengalami pengerutan
(irreversible shringkage). Jika dilakukan pembuangan air (drainase) permukaan
tanah akan mengalami penurunan (soil subsidence). Sifat khusus Histosol
tergantung pada sifat vegetasi yang diendapkan di dalam air dan tingkat
pembususkan. Di dalam air yang relative dalam, sisa-sisa ganggang dan tumbuhan
air lainnya menimbulkan bahan koloid yang sangat mengerut bila kering.
Sementara danau secara berangsur-angsur penuh, rumput, padi liar, lili air dan tumbuhan-tumbuhan ini yang sebagian membusuk, berlendir dan bersifat koloid.
Sementara danau secara berangsur-angsur penuh, rumput, padi liar, lili air dan tumbuhan-tumbuhan ini yang sebagian membusuk, berlendir dan bersifat koloid.
Ø
Ciri
·
Tidak mempunyai horizon.
·
Berwarna kroma mantap atau meningkat dengan bertambahnya kedalaman
dan mempunyai warna kurang dari 3.
·
ketebalan BO mencapai puluhan meter bisa sampai ratusan meter.
·
Mempunyai epipedon histik.
·
Tekstur beragam.
·
Tidak berstruktur atau berblok pada lapisan atas.
·
Bahan organik fibrik, hemik atau saprik.
·
Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan
kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih
dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang mengandung bahan organik
tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan
tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik
atau Organosol.
·
Memiliki epipedon histik, yaitu epipedon yang mengandung bahan
organik sedemikian banyaknya, sehingga tidak mengalami perkembangan profil ke
arah terbentuknya horison-horison yang berbeda.
·
Warna coklat kelam sampai hitam, berkadar air tinggi dan bereaksi
asam (pH3-5)
C.
Sub-ordo Histosol
1. Folists
Histosol yang jenuh air selama kurang dari 30 hari kumulatif
dalam tahun-tahun normal (dan tidak sedang didrainase)
2. Fibrists
a. Mempuyai bahan tanah fibrik lebih tebal dibandingkan dengan bahan tanah
organic yang lain, padasalah satu berikut:
-
Pada bahan tanah organic bagian tier bawah,
apabila tidak terdapat lapisan mineral yang kontinyu setelah 40 cm atau lebih
yang batas atasnya didalam tier bawah.
-
Pada kombinasi ketebalan bahan tanah organic bagi
tier permukaan dan bawah, apabila terdapat lapisan mineral yang kontinyu
setebal 40 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam tier bawah.
b. Tidak mempunyai horison sulfurik yang batas atasnya di dalam 50 cm dari
permukaan tanah.
c. Tidak mempunyai bahan sulfuduk di dalam 100 cm dari permukaan tanah.
3.
Saprists
Histosol lain yang yang mempunyai bahan tanah saprik lebih
tebal dibandingkan dengan bahan tanak organik yang lain pada salah satu sifat
berikut
-
Pada bahan tanah organik bagian tier bawah
apabila tidak terdapat lapisan mineral yang kontinyu setelah 40 cm atau lebih
yang batas atasnya di dalam tier bawah
-
Pada kombinasi ketebalan bahan tanah organik bagi
tier permukaan dan bawah apabila terdapat lapisan mineral yang kontinyu setebal
40 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam tier bawah.
4.
Hemists
Histosol yang lain.
D.
Great-group
a. Folists
-
Cryofolists
Yang mempunyai rejim suhu cryik.
-
Torrifolists
Folis lain yang mempunyai renjim kelembaban
airdik atau torrik.
-
Ustifolists
Folis lain yang mempunyai renjim kelembaban tanah
ustik atau xeric.
b.
Fibrists
-
Cryofibrists
Fibrists yang mempunyai rejim sushu cryik.
-
Sphagnofibrists
Fibrists lain yang tiga perempat bagian atau
lebih dari volume bahan fibrik berupa sphagnum baik sampai kedalaman 90 cm dari
permukaan tanah maupun sampai kontak densi, litit, atau paralitik, bahan
fragmental, atau bahan tanah mineral lain apabila berada pada kedalaman kurang
dari 90 cm.
-
Haplofibrists
Fibrists yang lain.
c. Saprists
-
Sulfosaprists
Saprists yang mempunyai horison sulfurik yang
batas atasnya di dalam 50 cm dari permukaan tanah.
-
Sulfisaprists
Saprists lain yang mempunyai bahan sulfidik di
dalam 100 cm dari permukaan tanah.
-
Croysaprists
Saprists lain yang mempunyai rejim suhu cryik.
-
Haplosaprists
Sapris yang lain.
d. Hemists
-
Sulfohemists
Hemis yang mempunyai horison sulfurik yang batas
atasnya di dalam 50 cm dari permukaan tanah.
-
Sulfihemists
Hemists lai yang mempunyai bahan sulfidik di
dalam 100 cm dari permukaan tanah.
-
Luvihemists
Hemists lain yang mempunyai bahan bumiluvik yang
menyusun setengah atau lebih volume suatu horison setebal 2 cm atau lebih.
-
Cryohemists
Hemists lain yang mempunyai rejim suhu cryik.
-
Haplohemists
Hemists yang lain.
E.
Sub-group
1) Folists
a. Cryofolists
-
Lithic cryofolists
Cryofolists yang mempunyai kontak litik di dalam
50 cm dari permukaan tanah mineral.
-
Typic cryofolists
Cryofolists yang lain.
b. Torrifolists
-
Lithic torrifolists
Torrifolists yang mempunyai kitak lintik di dalam
50 cm dari permukaan tanah mineral
-
Typic torrifolisits
Torrifolis yang lain.
c. Udifolists
-
Lithic udifolists
Udifolists yang mempunyai kontak litik di dalam
50 cm dari permukaan mineral.
-
Typic udifolists
Udifolists
yang lain.
d. Ustifolists
-
Lithic ultifolists
Ultifolists yang mempunyai kontak litik di dalam
50 cm dari permukaan tanah mineral.
-
Typic ustifolists
Ultifolists yang lain.
2) Fibrists
a. Cryofibrists
-
Hydric cryofibrists
Croyfibrists yang mempunyai lapisan air di dalam
penampang control di bawah tier permukaan.
-
Lithic cryofibrists
Cryofibrists lain yang mempunyai kontak litik di
dalam penampang control.
-
Terric cryofibrists
Cryofibrists lain yang mempunyai lapisan mineral
setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control di bawah
tier permukaan.
-
Fluvaquentic cryofibrists
Cryofibrlists yang lain di dalam bawah tanah
organiknya mempunyai satu atau lebih lapia mineral setebal 5cm memiliki dua
atau lebih lapisan mineral setebal apapun di dalam penampang control tanah di
bawah tier permukaan.
-
Sphagnic cryofibrlists
Cryofibrists lain yang tiga perempat bagi atau
lebih volume seratnya di dalam tire permukaan tersusun dari sphagnum.
-
Typic cryofibrists
Cryofibrists yang lain.
b. Haplofibrists
-
Heydric haplofibrists
Haplofibrsts yang mempunyai lapisan air di dalam
penampang control di bawah tier permukaan.
-
Lithic haplofibristis
Haplofibrists lain yang mempunyi kontak litik di
dalam penampang control
-
Limnic haplofibrists
Haplofibrists lain yang mempunyai satu lapis
limnik atau lebih dengan ketebalan total 5 cm atau lebih di dalam penampang
control.
-
Terri haplofibrists
Haplofibrists lain yang mempunyai lapisan mineral
setebal 30 cm tau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control di bawah
tier permukaan.
-
Fluvaqucntic haplofibrists
Haplofibrists lain yang di dalam bahan tanah
organiknya mempunyai satu atau lebih, lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih
atau memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapun didalam penampang
control tanah di bwah tier permukaan.
-
Hemic haplofibrists
Haplofibrists lain yang mempunyai satu lapisan
atau lebih berbahan hemik dan saprik dengan ketebalan total 25 cm atau lebih di
bawah tier permukaan.
-
Typc haplofibrsts
Haplofibrists ysng lsin.
c. Sphagnofibrists
-
Hydric sphagnofibrists
Sphagnofibrists yang mempunyai lapisan air
penampang control di bawah tier permukaan.
-
Lithic sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang mempunyai kontak litik
didalam penampang control.
-
Limnic sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang mempunyai satu lapisan
limnik atau lebih dengan ketebalan total 5 cm atau lebih di dalam penamapang
control.
-
Terric sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang mempunyai lapisan
mineral setebal 30 cm atau lebih yang bata atasnya di dalam penampang control
di bawah tier permukaan.
-
Fluvaquentic sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang di dalam bahan tanah
organiknya mempunyai satu atau lebih lapisan mineral setebal 5cm atau lebih
atau memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapun didalam penampang
control tanah di bawah tier permukaan.
-
Hemic sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang mempunyai satu lapisan
atau lebih berbahan hemik atau saprik dengan ketebalan total 25 cm atau lebih
di bawah tier permukaan.
-
Typic sphagnofibrists
Sphagnofibrists yang lain.
3) Saprists
a. Cryosaprists
-
Lithic Cryosaprists
Cryosaprists yang mempunyai kontak lintik di
dalam penampang control.
-
terric Cryosaprists
Cryosaprists
lain yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya
di dalam penamapang control di bawah tier permukaan.
-
Fluvaquentic Cryosaprists
Cryosaprists lain yang didalam bahan tanah
organic yang mempunyai satu atau lebih lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih,
atau memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapun di dalam penampang
control tanah di bawah tier permukaan.
-
typic Cryosaprists
Cryosaprists yang lain.
b. Haplosaprists
-
Lithic Haplosaprists
Haplosaprists yang mempunyai kontak litik di
dalam penampang control.
-
Limnic Haplosaprists
Haplosaprists lain yang mempunyai satu lapisan
limnik atau lebih dengan ketebalan total 5 cm atau lebih di dalam penampang
control.
-
Halic terric Haplosaprists
Haplosaprists lain yang mempunyai dua sifat
berikut:
ü
Pada keseluruhan lapisan setebal 30 cm atau lebih
yang batas atasnya di dalam penampang control, memiliki daya hantar listrik
sebesar 30 dS/m atau lebih (perbandingan antara tanah dan air 1:1) selama 6
bulan atua lebih dalam tahun-tahun normal.
ü
Lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang
batas atasny di dalam penamapang control di bawah tier permukaan.
-
Halic Haplosaprists
Haplosaprists lain yang pada keseluruhan lapisan
setebal 30 cm atau lebih di dalam penampang control mempunyai daya hantar
listrik sebesar 30 dS/m atau lebih (perbandingan antara tanah dan air 1:1)
selama 6 bulan atau lebih dalam tahun-tahun normal.
-
Terric Haplosaprists
Haplosaprists lain yang mempunyai lapisan mineral
setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control di bawah
tier permukaan.
-
Fluvaquentic Haplosaprists
Haplosaprists lain yang di dalam bahan tanah
organik mempunyai satu atau lebih lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih, atau
memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapu di dalam penampang control tanah di bawah tier permukaan.
-
Hemic Haplosaprists
Haplosaprists lain yang mempunyai satu lapisan
atau lebih berbahan fibrik atau hemik dengan ketebalan total 25 cm atau lebih
di bawah tier permukaan.
-
Typic Haplosaprists
Haplosaprists yang lain.
c. Sulfisaprists
- Terric
sulfisaprists
Sulfisaprists yang mempunyai lapisan mineral
setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang kontorl di bawah
tier permukaan.
-
Typic sulfisaprists
Sulfisaprists
yang lain.
d. Sulfosaprists
-
Typic sulfosaprists
Semua sulfosaprists ( untuk sementara waktu)
4) Hemists
a. Cryohemists
-
Hydric Cryohemists
Cryohemists
yang mempunyai lapisan air di dalam penampang controldi bawah tier permukaan
-
Lithic Cryohemists
Cryohemists lain yang mempunyai kontak litik di dalam
penampang control.
-
Terric Cryohemists
Cryohemists lain yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm
atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control di bawah tier
permukaan.
-
Fluvaquentic Cryohemists
Cryohemists lain yang di dalam bahan tanah oragniknya
mempunyai satu atau lebih lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih, atau
memiliki dua lapisan atau lebih lapisan mineral setebal apapu di dalam
penampang control tanah di bawah tier
permukaan.
-
Typic Cryohemists
Cryohemists yang lain
b. Haplohemists
-
Hydric Haplohemist
Haplohemists yang mempunyai lapisan air di
dalam penamapang control di bawah tier permukaan.
-
Lithic Haplohemists
Haplohemistslain yang mempunyai kontak litik di dalam
penampang control.
-
Limnic Haplohemists
Haplohemists
lain yang mempunyai satu lapisan limnik atau lebih dengan ketebalan total 5 cm
atau lebih didalam penampang control.
-
Terric Haplohemists
Haplohemists
yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atas di
dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-
Fluvaquentic Haplohemists
Haplohemists lain yang di dalam bahan tanah organic memiliki
satu atau lebih lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih, atau memiliki dua atau
lebih lapisan mineral setebal apapun di dalam penampangan control tanah di
bawah tier permukaan.
-
Fibric Haplohemists
Haplohemists
lain yang mempunyai satu atau lebih lapisan bahan tanah fibrik dengan ketebalan
total 25 cm atau lebih di bawah tier permukaan.
-
Sapric Haplohemists
Haplohemists
lain yang mempunyai satu lapisan atau lebih bahan saprik dengan ketebalan total
25 cm atau lebih di bawah tier permukaan.
-
Typic Haplohemists
Haplohemists
yang lain.
c. Luvihemists
- Typic
Luvihemists
Semua
luvihemists ( untuk sementara waktu )
d. Sulfihemists
- Terric sulfihemists
Sulfihemists
yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di
dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-
Typic sulfihemists
Sulfihemists
yang lain.
e. Sulfohemists
-
Typic sulfohemists
Semua
sulfohemists (untuk sementara waktu)
BAB III
ORDO TANAH HISTOSOL DI INDONESIA
A.
Padanan nama
Tabel 1. Padanan nama Tanah menurut berbagai Sistem
Klasifikasi (disederhanakan)
|
No
|
Sistem
Dudal-
Soepraptohardjo
(1956-
1961).
|
Modifikasi
1978/1982
(PPT)
|
FAO/UNESCO
(1974)
|
USDA
Soil
Taxonomy
(1975)
|
|
1
|
Tanah alluvial
|
Tanah aluvial
|
Fluvisol
|
Entisol
|
|
2
|
Andosol
|
Andosol
|
Andosol
|
Inceptisol
|
|
3
|
Brown Forest Soil
|
Kambisol
|
Cambisol
|
Andisol
|
|
4
|
Grumusol
|
Grumusol
|
Vertisol
|
Inceptisol
|
|
5
|
Latosol
|
Kambiso
Latosol
Lateritic
|
Cambisol
Nitosol
Ferralsol
|
Vertisol
Inceptisol
Ultisol
|
|
6
|
Litosol
|
Litosol
|
Litosol
|
Entisol
|
|
7
|
Mediteran
|
Mediteran
|
Luvisol
|
Alifisol/inceptisol
|
|
8
|
Organosol
|
Organosol
|
Histosol
|
Histosol
|
|
9
|
Podsol
|
Podsol
|
Podsol
|
Spodosol
|
|
10
|
Podsol merah kuning
|
Podsolik
|
Acrisol
|
Ultisol
|
|
11
|
Podsol coklat
|
Kambisol
|
Cambisol
|
Inceptisol
|
|
12
|
Podsol coklat
|
Podsolik
|
Acrisol
|
Ultisol
|
|
13
|
Regosol
|
Regosol
|
Regosol
|
Entisol/inceptisol
|
|
14
|
Rezina
|
Rezina
|
Rezina
|
Rendoll
|
|
15
|
-
|
Rangker
|
Rangker
|
-
|
|
16
|
Tanah-tanah Berglei
Glei Humus
Glei Humus Rendah
Hidromorf
Kelabu
Aluvial Hidromorf
|
Glesiol
Glesiol Humuk
Gleisol
Podsolik
Gleiik
Glerisol Hidrik
|
Gleysol
Gleyic
Acrisol
|
Aquic Sub ordo
Inceptisol (Aquept)
Inceptisol (Aquept)
Ultisol
(Aquult)
Inceptisol (Aquept)
|
|
17
|
Planosol
|
Planosol
|
Planosol
|
Inceptisol (Aquept)
|
B.
Sebaran geografis
Berbagai literatur, baik yang diterbitkan
di Indonesia maupun di luar negeri, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lahan
gambut tropis yang paling luas. Sementara secara keseluruhan, lahan gambut di
Kanada dan Rusia masih lebih luas dibandingkan dengan Indonesia. Lahan gambut
di kedua negara tersebut termasuk lahan gambuttemperate yang memiliki kandungan
serta kharakteristik yang berbeda dengan lahan gambut tropis. Meskipun semuanya
sepakat bahwa Indonesia memiliki lahan gambut tropis yang terluas, namun
mengenai berapa luas yang sebenarnya, para pakar ternyata berbeda pendapat. Hal
tersebut nampaknya menjadi kelaziman, karena sebagaimana halnya dengan tipe
habitat lainnya, misalnya mangrove, penentuan luas tersebut seringkali berbeda
bergantung kepada parameter serta definisi yang dipakai untuk menentukan luasan
suatu tipe habitat tertentu. Untuk memberikan sumbangan pengetahuan mengenai
luas lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan, Wetlands International – Indonesia
Programme dengan dukungan dari Proyek CCFPI, telah melakukan survey dan
perhitungan luas lahan gambut serta kandungan karbonnya di Sumatra, Kalimantan
dan Papua. Perhitungan tersebut didasarkan kepada interpretasi.
Citra
Satelit dengan menggunakan teknik penginderaan jarak jauh yang dikombinasikan
dengan jajak lapangan (ground truthing) yang dilakukan di beberapa lokasi
terpilih.
Berdasarkan survey dan perhitungan terakhir dari Wahyunto et.al. (2005) tersebut, diperkirakan luas lahan gambut di Indonesia adalah 20,6 juta hektar. Luas tersebut berarti sekitar 50% dari luas seluruh lahan gambut tropika atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia. Jika dilihat penyebarannya, lahan gambut sebagian besar terdapat di Sumatra (sekitar 35%), Kalimantan (sekitar 30%), Papua (sekitar 30%) dan Sulawesi (sekitar 3%).
Berdasarkan survey dan perhitungan terakhir dari Wahyunto et.al. (2005) tersebut, diperkirakan luas lahan gambut di Indonesia adalah 20,6 juta hektar. Luas tersebut berarti sekitar 50% dari luas seluruh lahan gambut tropika atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia. Jika dilihat penyebarannya, lahan gambut sebagian besar terdapat di Sumatra (sekitar 35%), Kalimantan (sekitar 30%), Papua (sekitar 30%) dan Sulawesi (sekitar 3%).
C.
Penggunaan tanah
Di negara-negara
bagian sebelah utara, tanah Histosol ini digunakan untuk menghasilkan bawang,
seledri, mint, kentang, kol, kranberi, wortel, dan tanaman umbi lainnya.
Sedangkan di Indonesia sendiri tanah histosol digunakan untuk menghasilkan
nenas dan lidah buaya.
Selama dekade terakhir ini banyak areal lahan gambut yang telah
dibukauntuk berbagai kepentingan, utamanya untuk kegiatan pertanian dan
perkebunan. Dalam skala yang lebih kecil, kegiatan pertanian dilaksanakan
melalui program penempatan transmigran di wilayah lahan gambut, khususnya di
Sumatra dan Kalimantan, sementara dalam skala yang lebih besar, pembukaan lahan
gambut ditujukan untuk mengambil tegakan kayu diatasnya serta untuk keperluan
pengembangan perkebunan, terutama Kelapa sawit. Tidak sedikit kegiatan
pembukaan tersebut lebih dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi jangka
pendek dan mengalahkan pertimbangan lingkungan yang bernuansa kepentingan
jangka panjang untuk lebih banyak masyarakat, sehingga yang kemudian dihasilkan
adalah sejumlah kegagalan dan kerugian bagi negara dan masyarakat, tetapi
mendatangkan keuntungan besar bagi pengembang yang dihasilkan dari ekstraksi
tegakan kayu diatasnya. Tak kurang upaya pemerintah maupun pihak lainnya untuk
mengurangi dampak buruk jangka panjang dari pengembangan di lahan gambut,
termasuk yang terkait dengan isu perubahan lingkungan. Namun pada saat yang
sama, tak kurang pula kebijakan
pemerintah yang diiringi dengan ketidak berdayaan penegakan hukum dan
ketidakpedulian masyarakat yang kemudian memacu kerusakan dalam jangka panjang.
Memang tidak selalu mudah untuk membagi perhatian antara kepentingan ekonomi
dan kepentingan lingkungan, terutama pada saat Indonesia berada dalam kondisi
sangat membutuhkan investasi dan penggerak roda pembangunan, meskipun pada saat
yang sama Indonesia telah menyatakan untuk mengadopsi konsep pembangunan
berkelanjutan.
BAB IV
PENUTUP
Daftar
Pustaka
-
Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Edisi ketiga. PT.
Mediyatama sarana perkasa. Jakarta. 233 halaman
-
Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis,
Akademika Pressindo. Jakarta. 274 halaman
-
Madjid,
A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar online. Jurusan Tanah. Fakultas
Pertanian.
-
Rayes,
M. L. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Penerbit Andi Yogyakarta. Yogyakarta. 298 halaman.
-
Anonin. 2006 Histosol. http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content
&task= view&id=13&Itemid=73. Diakses pada tanggal 13 september
2008.
-
Darmawijaya, isa. M, 1990, Klasifikasi Tanah. Yogyakarta;
Gadjahmada University Press.
-
Noor Y. R. dan J. Heyde. 2007. Pengelolaan Lahan Gambut
Berbasis Masyarakat di Indonesia. Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan
(KDT). Indonesia
-
Sanchez, A. Pedro, 1992, Sifat dan pengelolaan tanah
Tropika. Bandung; ITB Bandung. Foth, henry. D, 1994, Dasar-dasar Ilmu Tanah.
Jakarta; Erlangga.