Jumat, 02 Desember 2016

morfologi dan klasifikasi tanah

ORDO HISTOSOLS
DOSEN : Ir.H. Joni Gunawan, M.Sc

  Di susun oleh :
WAHYU TRI DODY SETIAWAN (C1051151035)
SARI WANIRA  (C1051151034)
ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK 2016



KATA PENGANTAR

     Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tulisan ilmiah tentang ordo tanah Histosol dari taxsonomy ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Ir. H. Joni Gunawan, M.Sc selaku dosen matakulia morfologi dan klasifikasi tanah.
  Kami sangat berharap tulisan ilmiah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai ordo tanah Histosol dari taxsonomy. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tulisan ilmiah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan tulisan ilmia yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga tulisan ilmiah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.







Daftar isi

Kata pengantar..........................................................................................................................II
 Daftar isi.................................................................................................................................. III
BAB 1 Pendahuluan................................................................................................................ 4
    Latar belakang................................................................................................................... 4
    Tujuan penulis.................................................................................................................... 4
BAB II Pembahasan................................................................................................................ 5
    Pengertian dan definisi...................................................................................................... 5
    Sifat dan ciri ordo.............................................................................................................. 6
    Sub-ordo............................................................................................................................ 7
    Graet-group........................................................................................................................ 8
           Sub-group.......................................................................................................................... 9
     BAB III Ordo histosol diIndonesia......................................................................................... 16
    Padanan nama.................................................................................................................... 16
    Sebaran geografis............................................................................................................... 17
    Penggunaan tanah.............................................................................................................. 18
    BAB IV Penutup..................................................................................................................... 19
            Daftar pustaka.................................................................................................................. 19
            Lampiran........................................................................................................................... 20


BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar belakang
adalah bagian penting dari unsur bumi yang kita pijak setiap harinya. Secara  kasat mata, tanah berwarna coklat dan ada pula yang kemerah-merahan. Namun, sebenarnyaklasifikasi tanahsangatlah banyak. Tanah merupakan penopang kehidupanmanusia di muka bumi. Dapat dikatakan  bahwa tanah adalahjantungbumi dan kehidupan. adapun definisi tanah secara umum Menurut beberapa ahli sebagai berikut :
1.      Ramman (Jerman, 1917). Tanah sebagai bahan batuan yang sudah dirombak menjadi partikel-partikel kecil yang telah berubah secara kimiawi bersama-sama dengan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang hidup di dalam dan diatasnya.
2.      E. Saifudin Sarief  (1986). Tanah adalah benda alami yang terdapat dipermukaan bumi yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan batuan dan bahan organik (pelapukan sisa tumbuhan dan hewan), yang merupakan medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor-faktor alami, iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pembentukan.

B.      Tujuan
1.      Agar mahasiswa megetahu tentag pengertian, definisi, sifat dan ciri-ciri dari ordo histosol
2.      Mahasiswa dapat memahami atau megetahu tentang sub-ordo, great-group dan sub-group menurut taxsonomy.
3.      Mahasiswa dapat megerahui manfaat dan penyebaran dari tanah yang berordo histosol tersebut






BAB II
ORDO TANAH HISTOSOL

A.    Pengertian dan Definisi
Histosol (tanah organic) asal bahasa yunani histories artinya jaringan. Histosol sama halnya dengan tanah sawa tanah organic dan gambut.Histosol mempunyai kadar bahan oranic sangat tinggi sampai kedalaman 80 cm (32 inches) kebanyakan adalah gambut (peat) yang tersusun atas sisa tanaman yang sedikit banyak terdekomposisi dan menyimapan air. Jenis tanah Histosol merupakan tanah yang sangat kaya bahan organic keadaan dalam lebih dari 40 cm dari permukaan tanah. Umumnya tanah ini tergenangan air dalam waktu lama sedangkan didaerah yang ada drainase atau dikeringkan ketebalan bahan organic akan mengalami penurunan (subsidence) Bahan organik didalam tanah dibagi 3 macam berdasarkan tingkat kematangan yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik merupakan bahan organik yang tingkat kematangannya rendah sampai paling rendah (mentah) dimana bahan aslinya berupa sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas. Hemik mempunyai tingkat kematangan sedang sampai setengah matang, sedangkan sapri tingkat kematangan lanjut. Dalam tingkat klasifikasi yang lebih rendah (Great Group) dijumpai tanah-tanah Trophemist dan Troposaprist. Penyebaran tanah ini berada pada daerah rawa belakangan dekat sungai, daerah yang dataran yang telah diusahakan sebagai areal perkebunan kelapa dan dibawah vegetasi Mangrove dan Nipah. 
   Secara umum definisi tanah gambut adalah:
Tanah yang jenuh air dan tersusun dari bahan tanah organic, yaitu sisasisa tanaman dan jaringan tanaman yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. dalam system klasifikasi baru (Taksonomi tanah), tanah gambut disebut sebagai Histosols (histos = jaringan ).”





B.      Sifat dan ciri ordo Histosol
Ø  Sifat
Sifat tanah gambut berbeda dengan tanah mineral lainnya dan untuk menanam atau membuka lahan seperti ini memerlukan tindakan pengelolaan khusus. Kandungan bahan organic yang tinggi karena tanah berasal dari sisa tanaman mati dalam keadaan penggenanangan permanent. Berat isi pada (bulk dencity) sangat rendah sehingga dalam keadaan kering kosentrasinya sangat lepas kadar hara makro tidak seimbang dengan kadar hara mikro yang sangat rendah.
Daya menahan air sangat besar dan jika mengalami kekeringan, tanah mengalami pengerutan (irreversible shringkage). Jika dilakukan pembuangan air (drainase) permukaan tanah akan mengalami penurunan (soil subsidence). Sifat khusus Histosol tergantung pada sifat vegetasi yang diendapkan di dalam air dan tingkat pembususkan. Di dalam air yang relative dalam, sisa-sisa ganggang dan tumbuhan air lainnya menimbulkan bahan koloid yang sangat mengerut bila kering.
Sementara danau secara berangsur-angsur penuh, rumput, padi liar, lili air dan tumbuhan-tumbuhan ini yang sebagian membusuk, berlendir dan bersifat koloid.
Ø  Ciri
·         Tidak mempunyai horizon.
·         Berwarna kroma mantap atau meningkat dengan bertambahnya kedalaman dan mempunyai warna kurang dari 3.
·         ketebalan BO mencapai puluhan meter bisa sampai ratusan meter.
·         Mempunyai epipedon histik.
·         Tekstur beragam.
·         Tidak berstruktur atau berblok pada lapisan atas.
·         Bahan organik fibrik, hemik atau saprik.





·         Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol.
·         Memiliki epipedon histik, yaitu epipedon yang mengandung bahan organik sedemikian banyaknya, sehingga tidak mengalami perkembangan profil ke arah terbentuknya horison-horison yang berbeda.
·         Warna coklat kelam sampai hitam, berkadar air tinggi dan bereaksi asam (pH3-5)

C.      Sub-ordo Histosol
1.      Folists
Histosol yang jenuh air selama kurang dari 30 hari kumulatif dalam tahun-tahun normal (dan tidak sedang didrainase)
2.      Fibrists
a.      Mempuyai bahan tanah fibrik lebih tebal dibandingkan dengan bahan tanah organic yang lain, padasalah satu berikut:
-          Pada bahan tanah organic bagian tier bawah, apabila tidak terdapat lapisan mineral yang kontinyu setelah 40 cm atau lebih yang batas atasnya didalam tier bawah.
-          Pada kombinasi ketebalan bahan tanah organic bagi tier permukaan dan bawah, apabila terdapat lapisan mineral yang kontinyu setebal 40 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam tier bawah.
b.      Tidak mempunyai horison sulfurik yang batas atasnya di dalam 50 cm dari permukaan tanah.
c.       Tidak mempunyai bahan sulfuduk di dalam 100 cm dari permukaan tanah.







3.      Saprists
Histosol lain yang yang mempunyai bahan tanah saprik lebih tebal dibandingkan dengan bahan tanak organik yang lain pada salah satu sifat berikut
-          Pada bahan tanah organik bagian tier bawah apabila tidak terdapat lapisan mineral yang kontinyu setelah 40 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam tier bawah
-          Pada kombinasi ketebalan bahan tanah organik bagi tier permukaan dan bawah apabila terdapat lapisan mineral yang kontinyu setebal 40 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam tier bawah.
4.      Hemists
Histosol yang lain.

D.     Great-group
a.      Folists
-          Cryofolists
Yang mempunyai rejim suhu cryik.
-          Torrifolists
Folis lain yang mempunyai renjim kelembaban airdik atau torrik.
-          Ustifolists
Folis lain yang mempunyai renjim kelembaban tanah ustik atau xeric.
b.      Fibrists
-          Cryofibrists
Fibrists yang mempunyai rejim sushu cryik.
-          Sphagnofibrists
Fibrists lain yang tiga perempat bagian atau lebih dari volume bahan fibrik berupa sphagnum baik sampai kedalaman 90 cm dari permukaan tanah maupun sampai kontak densi, litit, atau paralitik, bahan fragmental, atau bahan tanah mineral lain apabila berada pada kedalaman kurang dari 90 cm.
-          Haplofibrists
Fibrists yang lain.



c.       Saprists
-          Sulfosaprists
Saprists yang mempunyai horison sulfurik yang batas atasnya di dalam 50 cm dari permukaan tanah.
-          Sulfisaprists
Saprists lain yang mempunyai bahan sulfidik di dalam 100 cm dari permukaan tanah.
-          Croysaprists
Saprists lain yang mempunyai rejim suhu cryik.
-          Haplosaprists
Sapris yang lain.
d.      Hemists
-          Sulfohemists
Hemis yang mempunyai horison sulfurik yang batas atasnya di dalam 50 cm dari permukaan tanah.
-          Sulfihemists
Hemists lai yang mempunyai bahan sulfidik di dalam 100 cm dari permukaan tanah.
-          Luvihemists
Hemists lain yang mempunyai bahan bumiluvik yang menyusun setengah atau lebih volume suatu horison setebal 2 cm atau lebih.
-          Cryohemists
Hemists lain yang mempunyai rejim suhu cryik.
-          Haplohemists
Hemists yang lain.

E.      Sub-group

1)      Folists
a.      Cryofolists
-          Lithic cryofolists
Cryofolists yang mempunyai kontak litik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral.
-          Typic cryofolists
Cryofolists yang lain.
b.      Torrifolists
-          Lithic torrifolists
Torrifolists yang mempunyai kitak lintik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral
-          Typic torrifolisits
Torrifolis yang lain.
c.       Udifolists
-          Lithic udifolists
Udifolists yang mempunyai kontak litik di dalam 50 cm dari permukaan mineral.
-          Typic udifolists
Udifolists yang lain.
d.      Ustifolists
-          Lithic ultifolists
Ultifolists yang mempunyai kontak litik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral.
-          Typic ustifolists
Ultifolists yang lain.

2)      Fibrists
a.      Cryofibrists
-          Hydric cryofibrists
Croyfibrists yang mempunyai lapisan air di dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-          Lithic cryofibrists
Cryofibrists lain yang mempunyai kontak litik di dalam penampang control.

-          Terric cryofibrists
Cryofibrists lain yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-          Fluvaquentic cryofibrists
Cryofibrlists yang lain di dalam bawah tanah organiknya mempunyai satu atau lebih lapia mineral setebal 5cm memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapun di dalam penampang control tanah di bawah tier permukaan.
-          Sphagnic cryofibrlists
Cryofibrists lain yang tiga perempat bagi atau lebih volume seratnya di dalam tire permukaan tersusun dari sphagnum.
-          Typic cryofibrists
Cryofibrists yang lain.
b.      Haplofibrists
-          Heydric haplofibrists
Haplofibrsts yang mempunyai lapisan air di dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-          Lithic haplofibristis
Haplofibrists lain yang mempunyi kontak litik di dalam penampang control
-          Limnic haplofibrists
Haplofibrists lain yang mempunyai satu lapis limnik atau lebih dengan ketebalan total 5 cm atau lebih di dalam penampang control.
-          Terri haplofibrists
Haplofibrists lain yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm tau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-          Fluvaqucntic haplofibrists
Haplofibrists lain yang di dalam bahan tanah organiknya mempunyai satu atau lebih, lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih atau memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapun didalam penampang control tanah di bwah tier permukaan.
-          Hemic haplofibrists
Haplofibrists lain yang mempunyai satu lapisan atau lebih berbahan hemik dan saprik dengan ketebalan total 25 cm atau lebih di bawah tier permukaan.
-          Typc haplofibrsts
Haplofibrists ysng lsin.
c.       Sphagnofibrists
-          Hydric sphagnofibrists
Sphagnofibrists yang mempunyai lapisan air penampang control di bawah tier permukaan.
-          Lithic sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang mempunyai kontak litik didalam penampang control.
-          Limnic sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang mempunyai satu lapisan limnik atau lebih dengan ketebalan total 5 cm atau lebih di dalam penamapang control.
-          Terric sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang bata atasnya di dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-          Fluvaquentic sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang di dalam bahan tanah organiknya mempunyai satu atau lebih lapisan mineral setebal 5cm atau lebih atau memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapun didalam penampang control tanah di bawah tier permukaan.
-          Hemic sphagnofibrists
Sphagnofibrists lain yang mempunyai satu lapisan atau lebih berbahan hemik atau saprik dengan ketebalan total 25 cm atau lebih di bawah tier permukaan.
-          Typic sphagnofibrists
Sphagnofibrists yang lain.

3)      Saprists
a.      Cryosaprists
-          Lithic Cryosaprists
Cryosaprists yang mempunyai kontak lintik di dalam penampang control.
-          terric Cryosaprists
Cryosaprists lain yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penamapang control di bawah tier permukaan.
-          Fluvaquentic Cryosaprists
Cryosaprists lain yang didalam bahan tanah organic yang mempunyai satu atau lebih lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih, atau memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapun di dalam penampang control tanah di bawah tier permukaan.
-          typic Cryosaprists
Cryosaprists yang lain.
b.   Haplosaprists
-          Lithic Haplosaprists
Haplosaprists yang mempunyai kontak litik di dalam penampang control.

-          Limnic Haplosaprists
Haplosaprists lain yang mempunyai satu lapisan limnik atau lebih dengan ketebalan total 5 cm atau lebih di dalam penampang control.
-          Halic terric Haplosaprists
Haplosaprists lain yang mempunyai dua sifat berikut:
ü  Pada keseluruhan lapisan setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control, memiliki daya hantar listrik sebesar 30 dS/m atau lebih (perbandingan antara tanah dan air 1:1) selama 6 bulan atua lebih dalam tahun-tahun normal.
ü  Lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atasny di dalam penamapang control di bawah tier permukaan.
-          Halic Haplosaprists
Haplosaprists lain yang pada keseluruhan lapisan setebal 30 cm atau lebih di dalam penampang control mempunyai daya hantar listrik sebesar 30 dS/m atau lebih (perbandingan antara tanah dan air 1:1) selama 6 bulan atau lebih dalam tahun-tahun normal.
-          Terric Haplosaprists
Haplosaprists lain yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-          Fluvaquentic Haplosaprists
Haplosaprists lain yang di dalam bahan tanah organik mempunyai satu atau lebih lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih, atau memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapu di dalam penampang  control tanah di bawah tier permukaan.
-          Hemic Haplosaprists
Haplosaprists lain yang mempunyai satu lapisan atau lebih berbahan fibrik atau hemik dengan ketebalan total 25 cm atau lebih di bawah tier permukaan.
-          Typic Haplosaprists
Haplosaprists yang lain.
c.  Sulfisaprists
-    Terric sulfisaprists
Sulfisaprists yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang kontorl di bawah tier permukaan.
-          Typic sulfisaprists
Sulfisaprists yang lain.
d.      Sulfosaprists
-          Typic sulfosaprists
Semua sulfosaprists ( untuk sementara waktu)

4)      Hemists
a.      Cryohemists
-          Hydric Cryohemists
Cryohemists yang mempunyai lapisan air di dalam penampang controldi bawah tier permukaan
-          Lithic Cryohemists
Cryohemists lain yang mempunyai kontak litik di dalam penampang control.
-          Terric Cryohemists
Cryohemists lain yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-          Fluvaquentic Cryohemists
Cryohemists lain yang di dalam bahan tanah oragniknya mempunyai satu atau lebih lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih, atau memiliki dua lapisan atau lebih lapisan mineral setebal apapu di dalam penampang control  tanah di bawah tier permukaan.
-          Typic Cryohemists
Cryohemists yang lain

b.  Haplohemists
  -    Hydric Haplohemist
 Haplohemists yang mempunyai lapisan air di dalam penamapang control di bawah tier permukaan.
-          Lithic Haplohemists
Haplohemistslain yang mempunyai kontak litik di dalam penampang control.
-          Limnic Haplohemists
Haplohemists lain yang mempunyai satu lapisan limnik atau lebih dengan ketebalan total 5 cm atau lebih didalam penampang control.
-          Terric Haplohemists
Haplohemists yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atas di dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-          Fluvaquentic Haplohemists
Haplohemists lain yang di dalam bahan tanah organic memiliki satu atau lebih lapisan mineral setebal 5 cm atau lebih, atau memiliki dua atau lebih lapisan mineral setebal apapun di dalam penampangan control tanah di bawah tier permukaan.
-          Fibric Haplohemists
Haplohemists lain yang mempunyai satu atau lebih lapisan bahan tanah fibrik dengan ketebalan total 25 cm atau lebih di bawah tier permukaan.
-          Sapric Haplohemists
Haplohemists lain yang mempunyai satu lapisan atau lebih bahan saprik dengan ketebalan total 25 cm atau lebih di bawah tier permukaan.
-          Typic Haplohemists
Haplohemists yang lain.
c.   Luvihemists
-   Typic  Luvihemists
Semua luvihemists ( untuk sementara waktu )
d.  Sulfihemists
-   Terric sulfihemists
Sulfihemists yang mempunyai lapisan mineral setebal 30 cm atau lebih yang batas atasnya di dalam penampang control di bawah tier permukaan.
-          Typic sulfihemists
Sulfihemists yang lain.
e.      Sulfohemists
-          Typic sulfohemists
Semua sulfohemists (untuk sementara waktu)



BAB III
ORDO TANAH HISTOSOL DI INDONESIA

A.    Padanan nama
Tabel 1. Padanan nama Tanah menurut berbagai Sistem Klasifikasi (disederhanakan)
No
Sistem Dudal-
Soepraptohardjo (1956-
1961).
Modifikasi
1978/1982
(PPT)
FAO/UNESCO
(1974)
USDA Soil
Taxonomy
(1975)
1
Tanah alluvial
Tanah aluvial
Fluvisol
Entisol
2
Andosol
Andosol
Andosol
Inceptisol
3
Brown Forest Soil
Kambisol
Cambisol
Andisol
4
Grumusol
Grumusol
Vertisol
Inceptisol
5
Latosol
Kambiso
Latosol
Lateritic
Cambisol
Nitosol
Ferralsol
Vertisol
Inceptisol
Ultisol
6
Litosol
Litosol
Litosol
Entisol
7
Mediteran
Mediteran
Luvisol
Alifisol/inceptisol
8
Organosol
Organosol
Histosol
Histosol
9
Podsol
Podsol
Podsol
Spodosol
10
Podsol merah kuning
Podsolik
Acrisol
Ultisol
11
Podsol coklat
Kambisol
Cambisol
Inceptisol
12
Podsol coklat
Podsolik
Acrisol
Ultisol
13
Regosol
Regosol
Regosol
Entisol/inceptisol
14
Rezina
Rezina
Rezina
Rendoll
15
-
Rangker
Rangker
-
16
Tanah-tanah Berglei
Glei Humus
Glei Humus Rendah
Hidromorf
Kelabu
Aluvial Hidromorf
Glesiol
Glesiol Humuk
Gleisol
Podsolik
Gleiik
Glerisol Hidrik
Gleysol


Gleyic
Acrisol
Aquic Sub ordo
Inceptisol (Aquept)
Inceptisol (Aquept)
Ultisol
(Aquult)
Inceptisol (Aquept)
17
Planosol
Planosol
Planosol
Inceptisol (Aquept)


B.      Sebaran geografis
     Berbagai literatur, baik yang diterbitkan di Indonesia maupun di luar negeri, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lahan gambut tropis yang paling luas. Sementara secara keseluruhan, lahan gambut di Kanada dan Rusia masih lebih luas dibandingkan dengan Indonesia. Lahan gambut di kedua negara tersebut termasuk lahan gambuttemperate yang memiliki kandungan serta kharakteristik yang berbeda dengan lahan gambut tropis. Meskipun semuanya sepakat bahwa Indonesia memiliki lahan gambut tropis yang terluas, namun mengenai berapa luas yang sebenarnya, para pakar ternyata berbeda pendapat. Hal tersebut nampaknya menjadi kelaziman, karena sebagaimana halnya dengan tipe habitat lainnya, misalnya mangrove, penentuan luas tersebut seringkali berbeda bergantung kepada parameter serta definisi yang dipakai untuk menentukan luasan suatu tipe habitat tertentu. Untuk memberikan sumbangan pengetahuan mengenai luas lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan, Wetlands International – Indonesia Programme dengan dukungan dari Proyek CCFPI, telah melakukan survey dan perhitungan luas lahan gambut serta kandungan karbonnya di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Perhitungan tersebut didasarkan kepada interpretasi.
Citra Satelit dengan menggunakan teknik penginderaan jarak jauh yang dikombinasikan dengan jajak lapangan (ground truthing) yang dilakukan di beberapa lokasi terpilih.
Berdasarkan survey dan perhitungan terakhir dari Wahyunto et.al. (2005) tersebut, diperkirakan luas lahan gambut di Indonesia adalah 20,6 juta hektar. Luas tersebut berarti sekitar 50% dari luas seluruh lahan gambut tropika atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia. Jika dilihat penyebarannya, lahan gambut sebagian besar terdapat di Sumatra (sekitar 35%), Kalimantan (sekitar 30%), Papua (sekitar 30%) dan Sulawesi (sekitar 3%).









C.      Penggunaan tanah
      Di negara-negara bagian sebelah utara, tanah Histosol ini digunakan untuk menghasilkan bawang, seledri, mint, kentang, kol, kranberi, wortel, dan tanaman umbi lainnya. Sedangkan di Indonesia sendiri tanah histosol digunakan untuk menghasilkan nenas dan lidah buaya.
Selama dekade terakhir ini banyak areal lahan gambut yang telah dibukauntuk berbagai kepentingan, utamanya untuk kegiatan pertanian dan perkebunan. Dalam skala yang lebih kecil, kegiatan pertanian dilaksanakan melalui program penempatan transmigran di wilayah lahan gambut, khususnya di Sumatra dan Kalimantan, sementara dalam skala yang lebih besar, pembukaan lahan gambut ditujukan untuk mengambil tegakan kayu diatasnya serta untuk keperluan pengembangan perkebunan, terutama Kelapa sawit. Tidak sedikit kegiatan pembukaan tersebut lebih dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi jangka pendek dan mengalahkan pertimbangan lingkungan yang bernuansa kepentingan jangka panjang untuk lebih banyak masyarakat, sehingga yang kemudian dihasilkan adalah sejumlah kegagalan dan kerugian bagi negara dan masyarakat, tetapi mendatangkan keuntungan besar bagi pengembang yang dihasilkan dari ekstraksi tegakan kayu diatasnya. Tak  kurang  upaya pemerintah maupun pihak lainnya untuk mengurangi dampak buruk jangka panjang dari pengembangan di lahan gambut, termasuk yang terkait dengan isu perubahan lingkungan. Namun pada saat yang sama, tak kurang pula kebijakan  pemerintah yang diiringi dengan ketidak berdayaan penegakan hukum dan ketidakpedulian masyarakat yang kemudian memacu kerusakan dalam jangka panjang. Memang tidak selalu mudah untuk membagi perhatian antara kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan, terutama pada saat Indonesia berada dalam kondisi sangat membutuhkan investasi dan penggerak roda pembangunan, meskipun pada saat yang sama Indonesia telah menyatakan untuk mengadopsi konsep pembangunan berkelanjutan.





BAB IV
PENUTUP

Daftar Pustaka

-          Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Edisi ketiga. PT. Mediyatama sarana perkasa. Jakarta. 233 halaman
-          Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis, Akademika Pressindo. Jakarta. 274 halaman
-          Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar online. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian.
-          Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.
-          Rayes, M. L. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Penerbit Andi  Yogyakarta. Yogyakarta. 298 halaman.
-          Anonin. 2006 Histosol. http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content &task= view&id=13&Itemid=73. Diakses pada tanggal 13 september 2008.
-          Darmawijaya, isa. M, 1990, Klasifikasi Tanah. Yogyakarta; Gadjahmada University Press.
-          Noor Y. R. dan J. Heyde. 2007. Pengelolaan Lahan Gambut Berbasis Masyarakat di Indonesia. Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT). Indonesia
-          Sanchez, A. Pedro, 1992, Sifat dan pengelolaan tanah Tropika. Bandung; ITB Bandung. Foth, henry. D, 1994, Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta; Erlangga.