Selasa, 03 Januari 2017

laporan pratikum morfologi dan klasifikasi tanah

PRATIKUM MORFOLOGI DAN KLASIFIKASI TANAHDOSEN : Ir.H. Joni Gunawan, M.Sc 
 Di sususn oleh :           

 SARI WANIR

  (C1051151034)   ILMU TANAHFAKULTAS PERTANIANUNIVERSITAS TANJUNGPURA2017





KATA PENGANTAR

  Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan pratikum MKT  ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bang fahrul rozi selaku dosen pembimbing pratikum kimia tanah.
   Kami sangat berharap laporan pratikum ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai klasifikasi dan morfologi tanah ini,   Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan MKT tanah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan tulisan laporan ini yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga laporan pratikum MKT sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan laporan  di waktu yang akan datang.

                                                                                    03 Januari 2017



                                                                                    Sari wanira
                                                                                    C1051151034





Daftar isi

Kata pengantar.....................................................................................................i
 Daftar isi............................................................................................................ii
 Daftar tabel........................................................................................................iii
Daftar gambar......................................................................................................iv
Daftar lampiran.....................................................................................................v
BAB 1 Pendahuluan..............................................................................................1
    Latar belakang.................................................................................................1
    Tujuan penulis.................................................................................................2
BAB II Metode pratikum........................................................................................3
    Tempat dan lokasi............................................................................................3
    Alat dan bahan................................................................................................3
   Tinjauan pustaka...............................................................................................5
     BAB III Hasil dan pembahasan................................................................................8
    Hasil dan pembahasan lokasi pertama....................................................................8
   Hasil dan  pembahasan lokasi kedua....................................................................11
Hasil dan pembahasan lokasi ketiga.....................................................................13
    BAB IV Penutup................................................................................................15
            Kesimpulan..................................................................................................15
           Lampiran......................................................................................................16
           Daftar pustaka...............................................................................................18


Daftar tabel

Tabel 1.1 hasil morfologi tanah lokasi pertama.........................................................................8
Tabel 1.2 hasil morfologi tanah  lokasi kedua.........................................................................11
Tabel 1.3 hasil morfologi tanah lokasi ketiga..........................................................................13
Tabel 2.1 hasil uji lanjut lokasi pertama....................................................................................9
Tabel 2.2 hasil uji lanjut lokasi kedua.....................................................................................12
Tabel 2.3 hasil uji lanjut lokasi ketiga.....................................................................................14







Daftar gambar


Gambar 1.1  frofil tanah.............................................................................................................2
Gambar 1.2 penampang tanah entisols.......................................................................................4
Gambar 1.3 penampang tanah histosols.....................................................................................6
Gambar 1.4 buku munsel..........................................................................................................12










Daftar lampiran


Gambar 1.1 pengeboran tanah mineral.....................................................................16
Gambar 1.2 hasil pengeboran................................................................................16
Gambar 1.3 pegukuran hasil pengeboran..................................................................16
Gambar 1.4 membedakan lapisan...........................................................................16
Gambar 1.5 pegeboran tanah gambut......................................................................16
Gambar 1.6 megukur tanah gambut........................................................................16
Gambar 1.7 batasan horison..................................................................................17
Gambar 1.8 batas mineral dan gambut.....................................................................17
Gambar 1.8 uji pirit............................................................................................17
Gambar 1.9 pengisian formulir..............................................................................17



 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
    Dalam pertanian, tanah dapat diartikan lebih khusus yaitu sebagai media tumbuhnya tanaman darat. Tanah berasal dan hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa-sisa bahan organic dan organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya.Selain itu di dalam tanah terdapat pula udara dan air.Dan definisi ilmiahnya tanah adalah kumpulan benda alam I permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman.
    Ditinjau dari pandangan ilmu yang mempelajari tanah ada 2 yaitu pedologi dan edaphologi, pedologi adalah Ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah beserta faktor-faktor pembentuknya, kalsifikasi tanah, survai tanah, dan cara-cara pengamatan tanah dilapangan. Edaphologi adalah Ilmu yang mempelajari sifat-sifat tanah dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman serta usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah bagi pertumbuhan tanaman seperti pemupukan, pengapuran dan lain-lain.
    Morfologi dan klasifikasi tanah adalah ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah dan faktor-faktor pembentuknya, klasifikasi tanah, serta penggunaan klasifikasi tanah, serta penggunaan klasifikasi dalam survai tanah. Dalam praktikum kali ini akan mengklasifikasi tanah berdasarkan profil tanah yang diamati secara langsung dilapangan. Profil tanah adalah penampang vertikal dari tanah yang menunjukan susunan horizon tanah.
    Dinamika dan evolusi alam ini terhimpun dalam definisi  bahwa tanah adalah bahan mineral yang tidak padat (unconsoildated) terletak di permukaan bumi, yang telah dan akan tetap mengalami perlakuan dan dipengaruhi oleh faktor-faktor  genetik dan lingkungan yang meliputi bahan induk, iklim (termasuk kelembaban dan suhu), organisme (makro dan mikro) dan topografi pada suatu priode waktu tertentu. Satu ciri pembeda utama adalah tanah ini secara fisik, kimiawi dan biologis,  serta ciri–ciri lainnya umumnya berbeda di banding bahan induknya, yang variasinya tergantung pada faktor-faktor pembentuk tanah, jenis- jenis tanah serta horizon–horizon tanah tersebut.

   

   
    Secara vertikal tanah berdifferensiasi membentuk horizon-horizon (lapisan-lapisan) yang berbeda - beda baik dalam morfologis seperti ketebalan dan warnanya, maupun karakteristik kimia, fisik dan biologis masing-masing. Pada hal ini profil tanah merupakan irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke bebatuan induk tanah (regolit), yang biasanya terdiri dari horizon-horizon O-A-E-B-C. Empat lapisan teratas yang masih dipengaruhi oleh cuaca disebut solum tanah.
   Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan praktikum lapangan tentang profil tanah untuk lebih meningkatkan pemahaman kita terhadap tanah sebagai media tumbuh tanaman.  

Description: Hasil gambar untuk gambar profil tanah
Gambar 1.1  frofil tanah



B.     Tujuan

1.      Dapat mengetahui secara langsung dilapang sekaligus mengklasifikasi tanah berdasarkan sifat-sifat fisik dan morfologi tanah pada profil tanah yang ada.
2.      Untuk mengetahui sifat fisik, biologi, dan kimia pada tanah inceptisol serta faktor–faktor yang mempengaruhinya. Sifat fisik dan kimia tanah meliputi Warna, Tekstur, Sturktur, Konsistensi, Ukuran dan Ph tanah.




BAB II
METODE PRATIKUM
A.  Tempat dan lokasi pratikum
praktikum ini dilakukan pengeboran pada 3 lokasi yang berbeda , 1 lokasi pada setiap minggu.
1.      dimulai hari Selasa, 8 November 2016 lokasi pertama di depan masjid muhtadin pada pukul 15.15-selesai.
2.      22 November 2016, di  lokasi pengamatan  kedua di belakang Mesjid Ulul Albab, Fakultas Pertanian Untan pada pukul 15.15-selesai,
3.      29 November 2016 Lokasi ketiga bertempat dibelakang Fakultas Ekonomi Untan pada pukul 15.15-selesai.

B.     Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang kami gunakan yakni sebagai berikut:
1.      Alat:
-          Penggaris dan alat tulis
-          Formulir isian Morfologi Tanah
-          Pisau lapang
-          Meteran
-          Bor Tanah mineral & gambut
-          Buku munsell Soil Colour Chart

2.      Bahan:
-          Media  / lahan yang akan di bor
-          Larutan H2O2 3%








C.     Tinjauan pustaka
1.      Tanah Entisols
    Tanah Entisol merupakan tanah yang relatif kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman, sehingga perlu upaya untuk meningkatkan produktivitasnya dengan jalan pemupukan. Sistem pertanian konvensional selama ini menggunakan pupuk kimia dan pestisida yang makin tinggi takarannya. Peningkatan takaran ini menyebabkan terakumulasinya hara yang berasal dari pupuk/pestisida di perairan maupun air tanah, sehingga mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan. Tanah sendiri juga akan mengalami kejenuhan dan kerusakan akibat masukan teknologi tinggi tersebut. Atas latar belakang tersebut mulai dikembangkan sistem pertanian organik yang dahulu telah lama dilakukan oleh nenek moyang kita. Beberapa petani di Sleman dan Magelang telah melakukannya, sementara yang lain belum tertarik karena belum mengetahui manfaatnya terutama terhadap perbaikan sifat tanah (Anonyma, 2010).
Description: Tanah entisol
Gambar1.2 penampang tanah entisols
    Tanah yang kecil atau sedikit pembangunan dan sifat yang mencerminkan bahan induk mereka (root ent dari kata terakhir). Mereka termasuk tanah di lereng curam, dataran banjir, dan bukit pasir. Mereka juga terbentuk pada batuan sangat resisten atau deposito dalam pasir. Mereka terjadi di banyak lingkungan. Mereka memiliki fitur tidak okrik dan diagnostik. Urutan profil khas akan A, C, atau A, B, C (di mana Bw tidak kambik karena terlalu berpasir) (Anonymb, 2010).

     Entisol adalah tanah yang cenderung untuk berasal baru. Tanah ini ditandai dengan kemudaannya dan tidak adanya horizon genesis alami atau hanya mempunyai permulaan horizon. Konsep pusat Entisol adalah tanah di dalam regolit yang dalam atau bumi tanpa horizon kecuali barangkali suatu lapisan bajak. Akan tetapi, beberapa Entisol mempunyai horison plagen, agrik atau A2(albik), dan beberapa mengandung batu keras yang dekat dengan permukaan (Foth, 1994).
     Entisol adalah tanah yang muda (belum berkembang) dan dangkal, dicirikan oleh profil A/C atau A/R. Tanah ini masih belum sempurna dan memiliki profil yang horison B-nya belum berkembang. Tanah tidak memiliki banyak horison yang hanya berupa lapisan-lapisan tanah, karena beberapa alasan seperti waktu, pembentukannya masih baru, berada pada lereng atau pada slope yang tererosi, menerima deposit (endapan) banjir, dan sebagainya. Sebagai contoh tanah-tanah endapan sepanjang sungai, tanah berpasir lepas di lereng atas dan bawah, daerah vulkan atau tanah pasir pantai laut yang lepas dan belum membentuk struktur tanah (Musa, dkk, 2006).
     Nilai reaksi tanah sangat beragam mulai dari pH 2,5 sampai 8,5, kadar bahan organik tergolong rendah dan biasanya kurang dari 1 persen, kejenuhan basa sedang hingga tinggi dengan KTK sangat beragam, karena sangat tergantung pada jenis mineral liat yang mendominasinya, kadar hara tergantung bahan induk, permeabilitas lambat dan peka erosi (Munir, 1996).
2.   Tanah histosols
   Tanah histosol juga disebut tanah organik. Secara bahasa yang berasal dari bahasa Yunani histosol dapat berarti jaringan.
Tanah Histosol sama halnya dengan tanah rawa dan tanah gambut. Tanah Histosol mempunyai kadar bahan organik yang sangat tinggi yang baik untuk tanaman.
Secara klasifikasi lama, tanah ini termasuk tanah Organosol yang berasal dari kata Histos yang artinya jaringan tanaman.
Description: Untitled
            Gambar 1.3 penampang tanah histosols

   Jenis tanah ini biasanya ada di kedalaman lebih dari 40 cm dari permukaan tanah.
Pada umumnya tanah ini terbentuk karena dalam kondisi tergenang air dalam waktu lama.
 Untuk bahan organik yang terkandung di dalam tanah dapat dibagi menjadi 3 macam berdasarkan tingkat kematanganya, yaitu fibrik, saprik dan hemik.
Fibrik adalah bahan organik yang tingkat kematangannya paling rendah  atau mentah dimana bahan ini berupa sisa-sisa tumbuhan yang masih tampak jelas bentuknya.
Untuk Hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat kematangan sedang atau setengah matang, dan sapri adalah yang tingkat kematanganya tingkat lanjut.
Jenis tanah yang termasuk ordo Histosol adalah tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% atau 30 %.
Untuk tanah yang bertekstur pasir lebih dari 20 % dan untuk tanah yang bertekstur liat lebih dari 30%.







Ciri-cirinya sebagai berikut:
1.      Tanah memiliki epipedon histik, artinya epipedon yang mengandung bahan organik sangat banyak sehingga tidak mengalami perkembangan ke arah pembentukan lapisan horison-horison tanah yang berbeda.
2.      Warna tanah cenderung coklat kelam sampai hitam, berkadar air cukup tinggi dan bereaksi terhadap asam karena mengandung pH3 sampai 5.
Kandungan bahan organik yang tinggi dari tanah histosol ini berasal dari sisa-sisa tanaman yang mati dalam keadaan tergenang air. Kemampuannya sangat baik dalam menimbun cadangan air. Jika kadar air dalam tanah berkurang maka tanah cenderung menyusut dan tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula.
Sifat khusus tanah Histosol tergantung pada sifat bahan yang tergenang air dan tingkat pembususkan bahan organik.
Tanah Histosol biasa digunakan untuk budidaya bawang, mint, seledri , kol, kentang, kranberi, wortel, dan tanaman umbi-umbian. Hal ini terutama di negara-negara di bagian utara. Untuk di Indonesia sendiri, tanah histosol digunakan untuk budidaya nanas dan lidah buaya. Sayangnya, selama dekade terakhir ini banyak area tanah histosol mengalami kerusakan akbibat dari kegiatan pertanian, industri dan perkebunan.
Tanah Histosol banyak dibuka dan dikonversi mejadi lahan-lahan baru. Kegiatan pembukaan ini sayangnya hanya dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.
Sedangkan pertimbangan lingkungan yang bernuansa kepentingan jangka panjang diabaikan begitu saja.













BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.       Hasil dan pembahasan lokasi pertama
1.      Hasil
·         Deskripsi pada lokasi pertama
-          Hari/Tgl/Bln/Thn : Selasa 8 -11-2016                -   Lokasi : Depan masjid muhtadin
-          No tititk Boring  : 1                                            -   Pengamatan/Regu : 1
-          Kedalaman muka air tanah : 9 cm                     -   Jenis vegetasi : Sawit dan akasia
-          P.Lahan/Komoditas : Hutan                               -   Drainase :  Sedang
No
Jenis tanah M/G
Kedalaman Lapisan
Tekstur
Struktur
Kemtgan
Tanah
Warna
Tanah
Priri
Test
konsitensi
plastisitas






Matrik
Karatan

B

1
Mineral
0-11
lempung
berdebu
granular
S.matang
HR
10YR
4/5

2:1
SL
A.P
2
Mineral

11-37
Liat berdebu
Masif
A.matang
NR
10YR
3/2
2,5 YR
4/8
2:1
AL
A.P
3
Mineral
37-47
L.liat
berdebu
Masif
S.matang
HR
10YR
2/1

3:1
SL
T.P
4
Mineral
47-83
Liat
berdebu
Masif
S.matang
HR
10YR
3/1

3:2
L
A.P
5
Mineral

83-120
Liat berdebu
Masif
A.mentah
NU
10YR
4/1

3:2
L
A.P
-          Kedalaman Perakaran : 49 cm                           -   Kemiringan lereng : Datar


Tabel 1.1 hasil morfologi tanah lokasi pertama







2.      Pembahasan
Pada lokasi pertama yaitu depan masjid muhtadin untan hasil pengamatan yang kami dapatkan yaitu terdapat 5 lapisan. Lapisan pertama pada kedalaman 0-11 cm, lapisan kedua 11-37 cm,lapisan ketiga 37-47 cm, 47-83 cm, lapisan kelima 83-130 cm. lapisan pertama, kedua, ketiga dan ke empat memiliki perbedaan sifat fisik, biologi dan kimia. Perbedaan–perbedaan dapat dilihat dari batasan lapisan, warna, kematangan, tekstur, stuktur, konsistensi, test pirit, dan plastisitas. sedangkan lapisan keempat dan kelima memiliki persamaan sifat fisik, biologi dan kimia yang hampir sama hal ini dikarenakan semakin dalam tanah mineral maka akan semakin nampak persamaan setiap lapisan, yang membedakan pada lapisan keempat dan kelima yaitu pada kematangan tanah dan warna tanah. Pada lapisan kedua terdapat warna tanah karatan jadi karatan yang dikandung oleh lapisan tersebut memiliki kadar Al, Mn dan Fe. Perbedaan dan persamaan dapat dilihat dari hasil pengamatan profil. Jenis tanah pada lokasi pertama yaitu tanah mineral. Setelah kami melakukan pengamatan di lapagan kami lakukan uji lanjut dengan mengunakan buku soil taksonomy untuk megetahui golongan ordo, sub-ordo, great-group dan sub-group pada tanah tersebut dan hasil nya adalah:
Ordo
Sub-ordu
Great-group
Sub-group
Entisols
Aquents
Hydraquents
Typic Hydraquents



Tabel 2.1 hasil uji lanjut lokasi pertama
Adapun alasan kami memilih ordo, sub-ordo, great-group dan sub-group ini adalah sebagai berikut :
Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah dengan regolit dalam atau bumi tidak dengan horison, kecuali mungkin lapis bajak. Beberapa Entisol, meskipun begitu mempunyai horison plaggen, agrik atau horizon E (albik); beberapa mempunyai batuan beku yang keras dekat permukaan Entisol dicirikan oleh bahan mineral tanah yang belum membentuk horison pedogenik yang nyata. Mereka dicirikan oleh kenampakan yang kurang muda dan tanpa horison genetik alamiah, atau juga mereka hanya mempunyai horison-horison permulaan.


 Sub-ordo Aquents yaitu kondisi akuik dan bahan sulfidik didalam 50 cm dari permukaan tanah mineral; atau
1)      salelu jenuh air dan matriksnya tereduksi pada semua horison dibawah kedalaman 25 cm dari permukaan tanah mineral; atau
2)      pada suatu lapisan diatas kontak balik, litik,atau paralitik, atau lapisan diantara kedalaman 40 cm dan 50 cm dibawah permukaan tanah mineral,mana saja yang lebih dangkal, memiliki kondisi akuik selama sebagian waktu dalam tahun-tahun normal  (atau telah didrainase) dan mempunyai satu atau lebih sifat berikut;
a.       Tekstur lebih halus dari pasir halus berlempung dan, 50 persen atau lebih dari matriknya, memiliki satu atau lebih sifat berikutnya
(1)   Korma 0; atau
(2)   korma 1 atau kurang dan value warna, lembab, 4 atau lebih;atau
(3)   korma 2 atau kurang, dan terdapat konsentrasi redoks;atau
b.      Tekstur pasir mau berlempung atau yang lebih kasar dan, 50 persen atau lebih matriksnya, memiliki satu atau berikut;
(1)   korma 0; atau
(2)   Hue 10 YR atau lebih merah ,value warna lembab, 4 atau lebih, dan koma 1; atau
(3)    Hue 10 YR atau lebih merah, kroma 2 atau kurang, dan terdapat konsentrasi redoks  ;atau
(4)    Hue 2,5 Y atau lebih kuning,kroma 3 atau kurang , dan terdapat konsentrasi redoks yang jelas atau nyata;atau
(5)   Hue 2,5Y atau lebih kuning dan kroma 1; atau
(6)   Hue 5GY, 5G, 5BG,atau 5B;atau
(7)   Warna apapun apabila merupakan warna butir-butir pasir yang tidak terseliputi;atau
c.       mengandung cukup besi fero aktif untuk dapat memberikan reaksi positif terhadap alpha,alpha-dipyridly ketika tanah tidak sedang diirigasi.
            Great-Group Hydraquents merupakan Aquents lain yang, pada seluruh horison diantara kedalaman 20 cm dan 50 cm dibawah permukaan tanah mineral, mempunyai nilai-n lebih dari 0,7 dan mengandung liat sebsar 8 persen atau lebih pada fraktis tanah-halus. Sub-group Typic Hydraquents yaitu Hydraquents lainnya.


B.     Hasil dan pembahasan lokasi kedua
1.       Hasil
·         Deskripsi pada lokasi kedua
-          Hari/Tgl/Bln/Thn : Selasa 22-11-2016               -   Lokasi : Fakultas pertanian
-          No tititk Boring  : 1                                            -   Pengamatan/Regu : 1
-          Kedalaman muka air tanah : 32 cm                   -   Jenis vegetasi : ± 100 m pisang & tebu
-          P.Lahan/Komoditas : Kebun/semak                   -   Drainase :  Sedang
No
Jenis tanah M/G
Kedalaman Lapisan
Tekstur
Struktur
Kemtgan
Tanah
Warna
Tanah
Priri
Test
Konsitensi
plastisitas






Matrik
Karatan

B

1
Mineral
0-13
lempung

granular
A.matang
NR
10YR
4/3

2:2
TL
A.P
2
Mineral

13-39
lempung
berpasir
Masif
A.mentah
NU
10YR
4/3
10YR
7/8
2:2
AL
A.P
3
Mineral
39-51
Liat
berdebu
Masif
A.mentah
NU
10YR
3/1
7,5YR
5/8
2:2
L
T.P
4
Mineral
51-82
Liat
berdebu
Masif
A.mentah
NU
2,5YR
2,5/1

3:2
AL
A.P
5
Mineral

82-120
Liat
Masif
A.mentah
NU
5YR
2,5/1

2:2
AL
A.P
-          Kedalaman Perakaran : 38 cm                           -   Kemiringan lereng : Datar


Tabel 1.2 hasil morfologi tanah  lokasi kedua







2.       Pembahasan
     Hasil pengamatan dari lokasi kedua terdapat 5 lapisan. Lapisan pertama pada kedalaman 0-13 cm, lapisan kedua 13-39 cm, lapisan ketiga 39-51 cm, lapisan keempat  51-82 cm, dan lapisan kelima 82-120 cm. kelima lapisan memiliki perbedaan fisik, biologi dan kimia. Perbedaan–perbedaan ini dapat dilihat dari batasan lapisan, warna, kematangan, tekstur, stuktur, konsistensi, test pirit, dan plastisitas serta terdapat warna karatan di lapisan kedua dan lapisan ketiga jadi karatan yang dikandung di lapisan tersebut memiliki kadar Al, Mn dan Fe yang cukup. Perbedaan dapat dilihat dari hasil pengamatan profil. Dan jenis tanah pada lokasi ke 2 juga tanah mineral, dan hasil uji lanjut ordo, sub-ordo, graet-group dan sub-group nya sama dengan lokasi pertama yaitu:

Ordo
Sub-ordu
Great-group
Sub-group
Entisols
Aquents
Hydraquents
Typic Hydraquents



Tabel 2.2 hasil uji lanjut lokasi kedua

Adapun alasan kami memilih ordo, sub-ordo, great-group dan sub-group ini adalah sama dengan alasa yang ada pada pembahasan lokasi pertama.

Description: Hasil gambar untuk gambar buku munsell
Gambar 1.4 buku munsel




C.     Hasil dan pembahasan lokasi ketiga
1.       Hasil
·         Deskripsi pada lokasi pertama
-          Hari/Tgl/Bln/Thn : Selasa 29 -11-2016              -   Lokasi : Belakang Fk. Ekonomi
-          No tititk Boring  : 1                                            -   Pengamatan/Regu : 1
-          Kedalaman muka air tanah : 33 cm                   -   Jenis vegetasi : pohon kayu & pakis
-          P.Lahan/Komoditas : Hutan                               -   Drainase :  Sedang
-          Kedalaman Perakaran : -                                   -   Kemiringan lereng : Datar



No
Jenis
Kedalaman
Kematangan
Warna
Tanah
Prit
Keterangan

Tanah M/G
Lapisan
Tanah
Matrik
Karatan
Tess
tambahan
1
Histosols
0-10
S1
2,5YR
2/1
-
3:2
Air sedikit bersifat pasta
2
Histosols
10-24
H4
5YR
2,5/1
-

Air hampir seperti pasta
3
Histosols
24-54
H2
5YR
3/2
-

Air berlumpur
4
Histosols
54-124
F3
2,5YR
3/2
-

Air bersifat mirip lumpur
5
Histosols
124-150
F3
2,5YR
3/4
-

Air bersifat mirip lumpur
6
Mineral
2,9 m



3:1

Tabel 1.3 hasil morfologi tanah lokasi ketiga







2.      Pembahasan
    Hasil pengamatan dari lokasi ketiga terdapat 6 lapisan. Lapisan pertama pada kedalaman 0-10 cm, lapisan kedua 10-24 cm, lapisan ketiga 24-54 cm, lapisan keempat  54-124 cm, dan lapisan kelima 124-150 cm, dan pada lapisan ke 6 < 2,9 m yaitu mineral. Keenam lapisan memiliki perbedaan fisik, biologi dan kimia. Perbedaan–perbedaan ini dapat dilihat dari batasan lapisan, warna, kematangan, konsistensi, test pirit, serta keterangan tambahan dalam pengamatan pada tanah histosols. Jenis tanah ini adalah tanah gambut, dan hasil uji lanjut untuk mengetahui ordo, sub-ordo, great-group dan sub-group hasilya adalah:

Ordo
Sub-ordu
Great-group
Sub-group
Histosol
Hemists
Haplohemists
Fibric Haplohemists



Tabel 2.3 hasil uji lanjut lokasi ketiga


Adapun alasan kami memilih ordo, sub-ordo, great-group dan sub-group ini adalah sebagai berikut :
Tanah yang termasuk ordo Histosols merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol.
    Sub-ordo Hemists yaitu histosols lainnya, dikarenakan tidak ada sub-ordo yang mencirikan dari ordo histosols.
   Graet-group Haplohemists yaitu hemists lainnya, dikarenakan tidak ada great-group yang mencirikan dari sub-ordo hemists.
   Sub-group Fibric Haplohemists yaitu haplohemists lain yang memiliki satu atau lebih lapisan bahan kain dengan ketebalan total 25 cm atau lebih dalam penampang kontrol di bawah tier permukaan.




BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
    Klasifikasi ini dilakukan dengan tiga lokasi yang berbeda yaitu lokasi pertama di depan masjid muhtadin dan kondisi tanaman yaitu pohon dan kelapa sawit, lokasi kedua di faperta yang berlokasi di belakang masjid ulul albab dan kondisi lahan semak beserta tidah jauh dari perkebunan kangkung dan jagung, dua lokasi ini memiliki jenis tanahy mineral, sedangkan lokasi ketiga yaitu berada di belakang fakultas ekonomi yang dimanah jenis tanah gambut dan kondisi lokasi di tumbuhi pohon besar dan tanaman pakis. dan tujuan dari klasifikasi ini untuk megetahu tentang  ordo, sub-group, great-group dan sub-groupnya pada lokasi-lokasi yang telah di tetapkan, adapun hasil uji lanjut pada klasifikasi sebagai berikut :


Lokasi
Ordo
Sub-Ordo
Great-Group
Sub-Group
1.      Depan Mesjid Muhtadin,Pontianak
Entisols
Aquents
Hydraquents
Typic Hydraquents
2.      Belakang Mesjid Ulul Albab, Faperta Untan
Entisols
Aquents
Hydraquents
Typic Hydraquents
3.      Belakang Fk. Ekonomi Bisnis, Untan
Histosols
Hemists
Haplohemists
Fibric Haplohemists









LAMPIRA

   
 Gambar 1.1 pengeboran tanah mineral                    Gambar 1.2 hasil pengeboran

    
 Gambar 1.3 pegukuran hasil pengeboran            Gambar 1.4 membedakan lapisan

 
      Gambar 1.5 pegeboran tanah gambut        Gambar 1.6 megukur tanah gambut



        
         Gambar 1.7 batasan horison                 Gambar 1.8 batas mineral dan gambut


  
                  Gambar 1.8 uji pirit                          Gambar 1.9 pengisian formulir







DAFTAR PUSTAKA


Ø  Buckman, Harry dan Brady. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta Daud.2011.
Ø  lasifikasitanah.http://geografibumi.blogspot.com/2009/10/klasifikasi-tanah.html.diakses 26 Maret 2012
Ø  Foth, Henry. D.1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah.Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Ø  Hakim, Nurhajati dkk. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung
Ø  Hardjowigeno, Sarwono. 2010. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta
Ø  Buckman dan Brady. 2002. Konsistensi Tanah.Brawijaya : Surabaya.
Ø Darmawijaya. 1990. Ilmu tanah, Jakarta.
Ø  Hanafiah, K.A. 2003.Dasar - dasar Ilmu Tanah.Rajawali pers, Jakarta.
Ø  Madjid, abdul.Dr.Ir.MS.Dasar – dasar Ilmu Tanah.Dasar2ilmutanah.blogspot.com. 3 oktober 2009.
Ø  Mul, M.S. 2007. Analisis Tanah, air dan jaringan tanaman. Rieneka Cipta , Jakarta.